Anak sholeh adalah dambaan setiap keluarga muslim. Keberadaanya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Karena ia dapat menyejukkan dengan permohonan yang senantiasa anak sholeh lakukan kepada Allah, dapat mengantarkan orang tuanya kederajat yang istimewa. Dan yang paling luar biasa amalan dan doa anak menjadi penyambung pahala orang tua serta akan mengalir abadi, walau pun sang orang tua telah tiada.
Secara singkat dapat kita artikan bahwasanya mendidik adalah “memimpin anak” tetapi banyak masalah yang terjadi dengan ucapan tersebut kalau tidak memahaminya. Drs. M. Ngalim Purwanto Ap. dalam bukunya ilmu pendidik teoritis dan praktis, mengatakan mendidik merupakan pengertian yang sangat umum yang meliputi semua tindakan mengenai gejala-gejalanya pendidikan.
Beberapa ahli mengumpamakan pekerjaan mendidik itu sama halnya dengan pekerjaan “tukang kebun”. Sebelum menanam tanaman si tukang kebun tersebut memilih bibit yang akan ditanamnya dan juga memilih tanah dan pupuk yang tepat untuk tanaman tersebut. Setelah selesai memilih keseluruhanya barulah si tukang kebun tersebut menaburkan bibit tersebut ditanah yang telah dipilih dan kemudian bibit tersebut tumbuh dengan sendirinya, ada yang tinggi, subur, juga berbuah, tetapi ada pula yang pendek dan tidak berbuah dan bahkan ada yang mati. Si tukang kebun tidak dapat memaksa tanaman itu agar lekas tinggi dan berbuah, umpamanya dengan menarik-narik batangnya setiap hari atau menggunakan kuncup bunganya agar lekas mekar.
Tanaman-tanaman itu pun tumbuh dengan sendirinya oleh kekuatan dari dalam dan kecepatan tumbuhnya pun berbeda-beda pada setiap tanaman oleh karena itu tugas si tukang kebun tidak hanya memilih bibit, tanah dan pupuknya saja tetapi juga si tukang kebun harus mempengaruhi pertumbuhan tanaman itu dari luar, umpamanya menyiraminya setiap pagi, memberi pupuk menyemprot, membuang ulatnya, menyiangi atau membersihkan tanaman itu, dan bila perlu memindahkan tanaman itu ketempat lain yang lebih subur.
Demikian pula, seorang pendidik sebelum mempunyai anak yang akan di didik hendaknya seorang pendidik memilih pasangan hidupnya yang tepat untuk anak-anaknya. Setelah memilih barulah seorang pendidik menanam benih kepada pasangan yang sudah dipilih dan kemudian benih tersebut tumbuh dengan sendirinya menjadi seorang anak.
Sama halnya si tukang kebun, seorang pendidikpun tidak bisa memaksa pertumbuhan anak sekehendaknya. Ia tidak dapat membuat anak agar lekas berjalan atau berkata-kata jika memang belum waktunya. Demikian pula seorang pendidik tidak mencetak anak itu untuk menjadi dokter ahli negara, Insinyur, atau hal-hal yang memungkinkan tercapainya tujuan itu, sama halnya pertumbuhan jasmani dan rohaninya, anak itu “berkembang sendiri” dan perkembangannya itu menurut tempo dan iramanya sendiri pula yang tidak sama antara anak yang satu dan anak yang lain. Anak mepunyai bawaan dan bakat sendiri-sendiri. Sama halnya dengan si tukang kebun, oleh karena itu tugas pendidik tidak hanya untuk memilih pasangan hidup yang tepat, tetapi juga mempunyai tugas mempengaruhi pertumbuhan anak tersebut dari luar, seperti dengan memberi makan yang cukup sehat, memberi pakaian, menjaga anak supaya terhindar dari penyakit, menyediakan alat-alat dan memberi kesempatan untuk bermain, menasehati, melarang, menghukum, menyekolahkan, dan kalau perlu memindahkan anak itu kedalam lingkungan yang lebih menguntungkan.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwasanya mendidik anak itu tidak hanya sekedar memberikan stimulus-stimulus yang dapat membantu perkembangan fisik saja. Kita sebagai pendidik hendaklah memilih pasangan hidup yang shaleh/ah agar mendapatkan anak didik yang shaleh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar